B E R S Y U K U R

Standar

Ada perbincangan mengesankan antara dua lelaki di angkutan kota pagi ini, saat mengantar buah hati sekolah play group, perbincangan antara sopir angkot dengan penumpangnya yang duduk bersebelahan di depan,

seorang penumpang berwajah tirus, hidung mancung matanya sayu–berumur kurang lebih 69 tahunan lah-seorang berasal dari jawa tengah, wajahnya terlihat dari samping (kelihatan dari kursi penumpang dibelakang) seperti seorang yang ramah, bijaksana dan kalem juga berilmu sebut saja Pa Tua

” Nah, begitu kalau cari penumpang–jangan terburu-buru tapi tidak mendapat apa-apa, alon-alon wae (pelan-pelan saja) tapi tetap kita bersyukur”

Sopir : “enjeh pa, memang bersyukur itulah yang kadang tidak kita lakukan”

Pa Tua : “Nah, manusia selamanya tidak akan merasa berkecukupan kalau tidak bersyukur, apapun bentuknya, mau mengatakan Alhamdulillah bagi yang muslim atau kata-kata lain bagi non muslim sama wae mas, artinya dalam dari kata bersyukur itu”

Sopir : “Kebutuhan yang memaksa orang-orang tidak bisa bersyukur dengan ikhlas Pa”

Pa Tua : ” Benar, itu tidak dapat dipisahkan, tapi selama manusia bisa bersyukur berapapun besarnya yang didapatkan setiap hari, itu adalah pemberian allah, celakalah bagi yang tidak mau bersyukur, bahkan banyak sopir ugal-ugalan membawa penumpang lantaran ingin mendapatkan lebih, padahal kalau allah tidak menghendaki ya tidak dapat dipaksakan”

Kiri Depan Ya Mas, kemudian turun kuserahkan ongkosnya,

sejenak diberanda sekolah anakku pagi ini, seorang kakek bongkok membawa koran harian umum, dari berbagai sumber, mencari rezeki, ada rasa kasihan, walau jarang membaca koran, kuserahkan uangnya, dan kembaliannya tidak perlu kuambil lagi

“Ambil saja pa buat bapak”

Penjual koran itu kemudian, menempelkan uang Rp 5000,00 dikeningnya seraya mendoakanku

“Hatur Nuhun Neng, mugia neng dipaparin panjang yuswa,seueur rizki, didoakeun ku abah nya” [ Terimakasih neng, mudah-mudahan neng diberikan panjang umur, banyak rizki, didoakan sama abah ya] kurang lebih terjemahannya demikian

“Iya bah terimakasih”

“Mamih, Bilang Amin dan Alhamdulillah dong!”

Buah hatiku yang kutuntun tangannya, diam diam merekam pembicaraan bapak tua di angkot juga—hemmmm sudahkah kita bersyukur sekarang?

 

10 thoughts on “B E R S Y U K U R

  1. Iya .. kita seing berterima kasih pada manusia, tapi seringkali lupa berterima kasih (bersyukur) pada Yang Kuasa..
    Thanks udah ngingetin… 🙂 Salam Kenal…

  2. yang sulit itu bersyukur disaat kita susah ya, hmm…,memang manusia harusnya banyak-banyak bersyukur. diberi umur panjang dan kesehatan aja udah merupakan nikmat yang luar biasa.

    • iya sama-sama, bener tuh saya saja minim bersyukur-terlupakan tuh-semoga dengan kejadian ini menjadikan banyak orang bersyukur karenanya-kata-kata anak aku itu yang buat aku selalu ingat :)iya salam kenal ya

  3. Bersyukur itu menggunakan nikmat Tuhan di jalan-Nya. Kalau dinikmati dah hati lapang bersyukur, walau makan dengan nasi uduk, daging ayam, sambal terasi, lalapan segar, minum es teh manih ….. aduhhh …. enak e ….

mana komentarnya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s