Friend on My BB Contact 1

Standar

semuanya menjadi nuansa baru dirumah saat mana barang yang besarnya agak besar dari sabun mandi batangan sudah ditangan-dibeli dengan segala harapan—konon kalau barang didapatkan dengan pengorbanan maka dipakainya akan terasa kenikmatannya—dan membawa nuansa baru ditiap hari-hari penggunanya.

Awalnya barang gadget ini menjadi barang baru dan mewah ditanganku, sebelum semuanya merambah tumbuh subur di tangan jutaan umat di negaraku. Bukan ikut-ikutan lebih dari sekedar alasan yang dimiliki.
Cerita ini merupakan icon dari keseharian ku, dan mungkin akan sehati atau sama dengan kamu, atau mereka yang ada diluar Negara aku ini, senyum, galau, marah, bahkah doa dan berita bohong atau hoax, tapi semuanya dijalankan dalam sebuah suratan Ilahi.
Sebut saja aku Kamilia, 32 tahun yang lalu aku dilahirkan, aku baru saja keluar dari sebuah pekerjaan disebuah perusahaan dikota tempat aku tinggal, sebenarnya aku mampu bekerja di perusahaan keluarga bokapku, namun aku tidak berminat kerja dibawah otorisasi keluarga atau garis keturunan bapakku.
Sejak lulus dari kuliah dan memutuskan untuk bekerja, aku tidak ingin merepotkan keluarga, karena kehidupan mandirilah yang memberikan aku untuk tidak menyerah pada nasib, masuklah aku disebuah perusahaan milik orang India—Baru mengingjak 8 bulan bekerja disana mulai tercium aroma tidak kerasan, orang India memang pekerja keras saat karyawannya mulai tidur mereka bekerja mulai dari jam 7 malam sampai jam 2 pagi, dan terkadang karyawan bagian lainnya yang nota bene masih saudara Rajes, kudapati jam 8 pagi masih kelihatan tertidur di Ruangannya—mereka bilang mengejar berlian yang belum datang.
 Terbayang pagi-pagi hampir barengan dengan ayam berkokok aku harus bangun demi menempuh perjalanan 8 kilo meter jauhnya, menuju tempat kuli. Kadang melamun juga ongkos dan buat bensin Si Subuh (motor gue motor tua warisan bokap), hanya tersisa sedikit buat makan dipinggir jalan, dipikir-pikir lebih baik aku keluar kerja, aku kemudian tuliskan surat resign dengan tujuan besok aku serahkan pada bossku Si India itu namanya Rajes Kumar, Pria Setengah Baya Berperawakan tinggi besar, kulit gelap, hidung mancung—mirip Shah Rukh Khan sedikit.
Pagi ini dengan itikad mantap tentu saja disertai doa yang kuat, kukeluarkan si Subuh kemudian kupanaskan mesinnya yang suaranya sudah mulai menua, dan ku terjang dingin subuh menuju ketempat kerjaku.
Jam kerja sudah dimulai beberapa menit yang lalu—seperti biasa tehmanis masih ngebul didepan monitor PC ku, Imron Baru saja membawakannya untukku, tapi tak begitu menarik lagi dibandingkan surat yang ada didalam amplop putih ini. Aku datang keruangannya, bossku bengong –
“Kamu ada perlu apa, Lia?” Tanya bossku
“Saya mau resign boss-dan ini surat resignku” jawabku
“Loh kenapa, mari duduk sini” bossku terperangah heran
[aku duduk tepat didepan hidung mancungnya—tapi itu tidak menjadi prioritas, dalam benakku hari ini harus lulus resign]
“Kenapa memutuskan keluar kerja dari perusahaan saya, Lia?” Dia kembali bertanya setelah aku duduk nyaman,
“Beberapa hari yang lalu ibuku memutuskan agar aku pindah kerja diperusahaan milik sodara papahku, boss”.
[Ada tatapan aneh dimata siboss Rajes]
 
“Kamu sudah bulat dengan keputusanmu yang kamu ambil hari ini?”
“Sudah boss, saya tidak berubah pikiran, saya mantap dengan putusan ini”
“ooooo ya” [ Manggut-manggut, sambil mengeluarkan isi amplop putih dariku]
“Sebenarnya saya ingin mempertahankan Anda Lia, Pekerjaan Anda selama masa percobaan sudah bagus, track record anda pun disini bagus, team work anda bagus, namun saya juga tidak dapat menahan karyawan saya untuk tetap tinggal disini, kalau memang keputusan yang diambil tidak dapat diubah sedikitpun, Kalau begitu saya akan bilang Chen Chen (Bagian HRD) untuk mengurus surat resignmu Lia dan….sebentar ya…!”
[ mengangkat horn telpon kemudian memijit extension, samar-samar terdengar diseberang telpon suara wanita]
“Hallo Boss, dengan Chen Chen Bisa Dibantu?”
“Chen,  Bisa keruangan saya sebentar, bawa arsip karyawan Kamilia oke?”
“Baik Boss, saya segera kesana”
[Selang beberapa menit, Pintu Ruangan yang penuh dengan bau Dupa itu diketuk]
“Masuk” , Boss ku mempersilahkan
“Chen, duduklah, hari ini saya dapat info Lia akan resign karena kepentingan keluarga yang mendesak.”
[Chen chen siwajah blasteran China-Jepang, kelihatan kaget, buru-buru dia merespon boss Rajes]
“Oya…saya baru juga mendapatkan info ini Bu Lia.”
[Aku sedikit membela diri]
“Betul Ci Chen Chen, Saya serba Mendadak, inginnya ada waktu sampai ada substitute saya disini, namun sayang sekali saya harus buru-buru ikut keluarga pindah keluar kota, dan ini tidak bisa saya tolak.”
[Alasan itulah satu-satunya yang harus saya keluarkan saat ini, agar segera lulus dari dunia aneh yang selama ini saya terjuni, ya Dunia Aneh, sebab disaat karyawan termasuk saya didalamnya, menerima hak pembayaran gaji-dimana orang-orang selain saya diperusahaan lain sudah mulai pada belanja, sementara diperusahaan ini, tenaga, pikiran dan perasaan terus diperas sampai tiba gajian tanggal 50 kalender perusahaan ini, dan itu yang membuat saya sebagai anak kost agak kelimpungan juga, untuk membayar hutang makan, kostan dan menutupi kasbon ke kas kantor]
“ Saya sudah coba Chen membuat Lia bertahan disini bersama kita, tapi Lia tidak bisa memberikan waktu, keluarganya besok harus terbang ke Myanmar. [demikian penjelasan Rajes ke Chen Chen, dan Ia mengerti]
“Lia saya Pribadi beserta staff saya ingin mengucapkan terimakasih sudah bisa bekerja sama dengan kami, maaf untuk urusan keuangan kamu bulan ini silahkan hubungi Cika, nanti saya kirim Memo ke dia”.
[Siall mana hari ini akhir bulan, aku lupa bulan kemarin aku kasbon karena ada keperluan yang mengharuskan aku menggunakan gaji lebih dari jumlah gaji yang akan didapatkan bulan ke ini]
“Baiklah boss, terimakasih sudah mengingatkan nanti saya hubungi ibu Cika”
[Jabat tangan boss seperti tak ingin aku resign, ingin aku bertahan diperusahaan dupa miliknya, perusahaan yang sudah 8 bulan berusaha saya betah-betahkan ini, berusaha menjadi bagian didalamnya, walau dengan hasil nihil, entah mungkin aku terlampau lelah, atau gara-gara aku kehilangan penyemangat hidup aku]
Setelah kuselesaikan administrasi dan hutangku keperusahaan sama Bu Cika, aku beranjak pulang-tiba dipintu gerbang telpon berdering
“Kamilia, Kemana Aja Lo—gue sudah beberapa kali telpon lo kaga diangkat-angkat, masih hidupkah lo?”
[ Teman ku yang menghilang selama beberapa hari mencoba menghubungi aku]
“Sorry win, sorry tadi gue lagi ngadep boss nih, Si India itu”
“Lia gimana lo jadi ganti HP, BB gua mau dijual nih, bosan?”
“Iya mau-mau nanti siang gue kerumah lo ya”,
[Kemudian aku pamit ke staff dijajaran aku, tak lupa Office Boy yang paling dekat denganku Imron tempat aku nitip sesuatu untuk dibelikan, atau sekedar minta dibelikan cokelat yang iklannya rela bagi-bagi itu, kebanyakan dari mereka nyesel karena tidak bisa mengantar ku dengan farewell party seperti kebanyakan karyawan yang resign sebelum aku]
Aku tinggal disebuah kostan perempuan muslimah, seperti karyawan lain di kota besar ini, bisa saja sih aku tinggal di apartement mewah, tapi sayangnya aku lebih suka menghindari aturan yang ribet plus sosok satpam apartemen seperti rekanku, saya lebih doyan kesunyian disini, walaupun bokapku seorang pengusaha spare part mobil terkenal, tapi itu kan bokapku bukan aku yang kaya, aku tidak seperti anak orang kaya kebanyakan, kalau bapaknya kaya raya anaknya harus ikut aturan bokap demi sebuah legalitas privacy atau nama baik keluarga, tidak dengan ku, entahlah hidup merakyat digang sempit, dan sesekali terdengar anak-anak bermain bola digang sempit ini, itu adalah cita rasa-mungkin lebih dari sekedar cita rasa.
Dibenak ortuku inginnya aku meneruskan S2, tapi aku menolak, dengan alasan aku punya plan kalau sudah punya penghasilan sendiri biar S2 ku nanti aku biayai dari keringatku sendiri, sungguh sebuah cita-cita yang mengharukan bagi Mereka kedua orang tuaku, walaupun kenyataannya aku belum dapat mencapai itu, dan pada saat ini, aku tidak ingin mereka tahu kalau aku sudah resign kerja dan tak lagi kerja dikantor itu, aku tidak ingin bokap memaksa aku kembali pulang ke kota itu, dan meneruskan jejak untuk menjadi owner diperusahaan spare part bokapku, dan sesekali harus terbang ke Myanmar mengantar ibuku bolak balik dengan pekerjaanya dikedutaan Negara ini,  aku seneng aroma kamar kost yang aku tempati kini, diseluruh dindingnya aku cat habis kurang lebih 2 jutaan 10 bulan lalu, warna tosca dan abu-abu yang sangat aku suka, ranjangnya dominasi abu tua, meja rias dan satu piano peninggalan bokap aku design warna abu, sesekali aku mainkan kalau kebetulan kostan ku sepi sudah pada berangkat  dengan acara masing-masing.
[Hari ini adalah kebebasan yang luar biasa aku rasakan, bukan hanya kebebasan dari bau dupa yang setiap hari aku hirup diruangan yang mirip gudang itu, bukan pula  kebebasan dari Rites, adik sepupu Rajes yang selalu mencuri pandang, saat mana aku lewat tepat didepan ruangannya, bukan juga kebebasan dari pertanyaan Imron sang sobat Office Boyku yang setiap pagi datang menyambutku dengan satu mug teh manis, atau Nita, Lala, Santia dan Sisi Rekan satu Ruanganku yang aku tinggalkan dengan sisa pekerjaanku. Bukan, semua itu bukan penyebab aku merasa bebas, tapi kebebasan hari ini adalah bisa membuka jendela kamar aku dan dimisscall orang tak dikenal 3 kali berturut-turut, setiap hari yang harus berakhir dengan terlelap tidur diayun-ayun dentingan piano]
Tepat Pukul 19.00 malam ini aku janji sama Windya untuk datang kerumahnya, setelah mandi dan memotong kekpisangvilla dimeja makan, segera aku berangkat kerumah Windya hanya 10 menit perjalanan saja,
[Tiba Diruang Tamunya Windya-kembali kekpisang villa tersaji didepan mataku, seperti makan bersambung]
“Lia, Silahkan dimakan bu, ane tadi siang bikin kek pisang villa, dan juice manggis, lo pasti belum pernah mencobanya, ayo sikat friend.”
[Tawaran ramah yang keluar dari mulut windya yang tomboy membuat air liurku kembali mengalir, dan tertahan karena gengsi-gengsi kalo buru-buru kesannya kelaparan banget, walaupu memang iya aku laper habis dari kejadian siang ini, biasanya dapat catering dari Imron, siang ini kan aku kasih aja bagianku itu ke Imron, dan cacing perutku hanya aku kasih kekpisangvilla  dimeja kostan itu]
“Oya, thank win, gue kesini mau ngejabanin tuh HP lo, yang lo tawarkan, boleh gue lihat nih?”
“Boleh, LUMAGA bokap lo begitu kan, lu mau gue ada- nih lihat aja, gue baru beli satu bulan lalu, gue dah bosan banget nih gadget, pengen ganti lagi, gue bosenan Lia”
“Wah, Gue juga gaptek sebenarnya, tapi gue tertarik karena lo nawarin dengan harga gimana gue tadi itu, ini tipe baru bukan?”
“Iya betul sob, gue beli waktu itu 5 jutaan, ke lo gue lepas berapa aja lo mau bayar.”
“waduh, itu sih rizki gue namanya windya, masa gue yang nentuin harganya, jadi kaga enakan gini, kalau gimana gue sih pastinya gratis aja skalian biar lo rugi”.
[kami bercanda, dan berakhir gadget itu ditanganku dengan harga 5 kali lebih kecil dari harga belinya]
Sejak dulu pertama kali bertemu dimataku Windy emang anak baik, sobat yang baik buat ku, walaupun kami hanya ketemu ditempat hang out, karena dia butuh browsing internet dan ikut nebeng laptopku waktu itu disatu tempat nongkrong dikota ini, pertemanan kami berlanjut hingga saat ini  beberapa bulan lalu iapun datang nengok adikku yang sakit dirumah sakit –
dan membawakan makanan banyak banget, selain itu angpau yang dimasukkan kedalam kotak angpau saat pernikahan sepupuku sangat besar isinya 3 juta, aku tidak heran karena mungkin dia anak orang kaya, bapaknya orang Amerika, seorang pengusaha kelapa sawit disumatera, ibunya keturunan china seorang owner hotel berbintang juga dimedan, sementara dikota Bandung ini ia tinggal dirumahnya sendiri, rumah yang dibuatkan orang tuanya 2 tahun lalu]
Sekarang jam 20.30
Waktunya aku pamit setelah segelas juice manggis dan 4 potong kekpisangvilla, lewat dikerongkonganku, membuat aku mengantuk dan memutuskan pulang dengan rona bahagia
Aku pamit pada windya dan 2 orang adiknya
“ Hati-hati, ya.” Windya wanti-wanti.
Mereka bertiga berdiri diteras rumah, mengantar aku hingga hilang dibelokan.
Sesampainya dirumah
Aku tidak buru-buru tidur, shalat isya sudah dilakoni, aku kemudian memasang sim card ku, dan mengaktifkan gadget baruku, akhirnya aku dapat memiliki Hand Phone yang aku mimpi-mimpikan ini dengan hasil keringatku sendiri, harganya murah juga—walaupun sebenarnya aku kebeli sih dengan harga barunya-dan papah ku juga sanggup beli gadget ini, tapi entah kenapa mengeluarkan kocek dari kantong sendiri dengan perjuangan mendapatkannya, adalah kenikmatan sendiri seperti kenikmatan kekpisangvilla dimeja makan kostan atau meja tamunya windya ya.
Tiba dikamar seluruh tubuhku terbius oleh gadget baru ini, tubuhku sudah kubolak balik diatas kasur ini dengan tangan tetap adaptasi dengan si putih, begitu aku menyebutnya, sudah jam 1 dini hari tidak terasa aku masih autis didepan si putihku, sepanjang hari hingga malam bahkan tidurpun ga mau jauh-jauh darinya, dan parahnya lagi disaat lampu merah tak jarang aku diteriaki para pengendara lain karena aku buka hp nunggu lampu hijau menyala, dan dalam waktu 2 hari saja pesanku kenomor telepon teman-temanku “Hai Bro and Sista, ini Pin BB gue, tolong di invite ya…Kamilia” Pesan ini sudah menyebar luas keteman-teman dan tak lupa juga keluarga ku.
Mereka yang add aku juga kena sindrom bb, karena mereka sudah lebih dulu punya hand phone pintar ini, di twitter, ym atau FB aku kirim teman-temanku tuh pin baruku, separuh hirup ku sekarang jadi tukang promosi pin bb baru, sialnya aku jadi lebih sering tertawa sendiri dan kedua jempolku sekarang menjadi agak bengkak gimana gitu—kadang juga seruan ibu kost untuk makan aku sering abaikan dan berakhir dengan ketukan dipintu kamar oleh bu kost, yang sudah seperti aku anggap ibuku sendiri itu
###
Dua minggu berlalu aku merasa bahagia dengan pengangguran dapat BB keren murah pula,
Berbahagialah makhluk yang dapat menikmati ciptaan Allah lewat perantaraan makhluknya yang jenius seperti Mike Lazaridis,
Tepat Jam 10 malam saat dimana  Hipersomnia mencapai tingkatan paling tinggi-suara Ringstone BB baruku terdengar lagi, lagu Ariel Peterpen Separuh Aku kubiarkan mengalun—dan saat aku mendengarkannya, aku raih siputihku, kulihat layarnya sedikit merem ayam sih, deringan itu dari penelepon yang sama yang hampir 2 hari tidak aku dengar lagi, penelepon yang tidak ingin mencantumkan namanya, dan disaat aku terima teleponnya bukan suara manusia melainkan suara dentingan piano, lagunya berubah-ubah, kadang lagu Indonesia ya love romantic tapi tetap instrument piano yang aku dengar,  akupun tidak suka menutup teleponku anehnya lagi sampai instrument itu selesai aku slalu tetap mendengarkan hingga kudapati pagi harinya dentingan piano itu sudah tak terdengar ditelingaku, dan kudapati HPku masih menempel ditelingaku, aku tak dapat bayangkan kalau aku tidur jam 22 malam dan bangun jam 4.30 subuh 6 jam 30 menit aku tidak mengganti posisi tidurku, nyenyak banget, bahkan tak jarang leherku sakit , itu akibat salah tidur ibuku bilang begitu,
Dua puluh menit subuh ini, masih diselimbuti dingin, dan sedikit kemampuanku untuk berusaha mengumpulkan rohku, kemudian meraih bbku dan kupandangi didepan mataku tepat diatas mukaku dengan posisi tubuh masih terlentang ini, tak habis pikirku beberapa waktu piano itu selalu diperdengarkan dengan lantunan yang akhirnya pasti membuat aku tertidur, dan heran bercampur konyol telepon itu selalu datang disaat aku hendak menuju alam mimpi, selalu ya selalu begitu, aku juga gilanya tidak pernah bisa menolak untuk tidak menekan tombol terima,
 “LIa, ini baju kamu ya?”
[ketukan pintu kamar dan suara Siska teman kostku membuyarkan lamunanku, beranjak aku buka pintu dan melihat baju kerjaku kotor dibawa Siska, segera mandi dan shalat subuh, aku beranjak keruang tengah ngumpul barena teman kost nonton kuliah subuh, dan berencana hari ini akan masak sama teman kostan menghabiskan waktu liburnya,
Satu hal lagi , Siska juga sedang autis-autisnya dengan Hand phone barunya sama seperti aku BB baru, dibenakku mudah-mudahan Siska nasibnya tak seburuk aku ketika hendak terlelap dimalam nanti.

2 thoughts on “Friend on My BB Contact 1

mana komentarnya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s