CATATAN SELEPAS MAGHRIB

Standar

sepeninggal kakek tetangga berusia 89 tahun—

setelah berperang melawan stroke,akhirnya disatu sore 2 hari yang lalu ia pergi meninggalkan jasadnya-rohnya melesat jauh entah kemana–diujung doa shalat magribku kusebutkan namanya, berharap Allah yang maha Mulia memberikan tempat teratas,3 hari lalu aku datang kerumahnya tepat disamping rumahku–kedatanganku disambut istrinya yang juga sudah tua renta, 10 menit kemudian setelah bicara basa basi, sikakek mencoba meraih tanganku–kuraih tangan lemahnya-dua pijatan lembut ditelapak tanganku, sekarang baru disadari mungkin” sebagai ucapan maaf dan perpisahannya padaku”–kemudian aku bersyukur telah sempat bertatap muka sebelum nyawanya pergi–

 

diujung shalat magribku itu–setelah doaku banyak–kumendengar suara gemuruh diatap rumahku–aku malu mau bilang”atap yang seatap dengan rumahnya sikakek”, kemudian suara benda jatuh dilangit-langit ruang–aku berpositif “mungkin kucing menjatuhkan genteng”, sesaat kemudian masih memakai mukena, aku leyeh-leyeh dikamar dan tanpa sadar aku tertidur disana–tiba-tiba handphone ku berdering ada short message service ke HP jadulku, sms pembantuku mengatakan”, ” Bu, Mau ngelayat Kakek Ading tidak, biar Lala aku jagain, aku baru saja dari rumahnya”, aku terperangah tak percaya–sebab baru saja dilelapku aku bertemu dia–mengenakan baju koko putih, membawa tongkat rotan warna cokelat muda, dan sebelah tangannya membawa bijih tasbih, ia bicara padaku “Kalau sempat waktumu, jangan pernah menunda shalat, terutama subuhmu dan shalat malammu”,

 

sedikit tak percaya lalu aku bilang “Inalillahi _semoga Allah menerimanya”, diluar suara tetangga gemuruh–mungkin kabar ini membuat semua berkumpul, kakek memiliki nama baik semasa hidup, ia bertetangga dan orangnya tidak sulit–aku pun cemburu tak bisa bertetangga baik seperti dia.

 

buru-buru aku berganti pakaian-berhijab serba hitam,

kutemui nenek renta istri sikakek, kudekap tubuh dinginnya–kubuka kain batik penutup mayat jasad kakek, kulihat paras pucat-yang 2 hari lalu kulihat begitu bersih, kini pucat pasi mata tertutup rapat-dan tidak akan terbuka lagi, mulutnya sedikit ternganga, kudoakan ia sekali lagi-kuantar kehadapan-Nya lewat doaku-doa yang mungkin Allah mendengarnya, kemudian ku Aji Surat Yasiin, dihadapan jenazah kakek, hingga berpamitan sama nenek bertubuh renta, ingin membantunya namun anakku menjerit minta ditemani tidur, tidur berdua dengan anakku-disamping rumahku disana kakek terbujur kaku-ada banyak orang lelaki menunggu mayat-bercengkrama sambil minum kopi hitam–aku lelap diatas ranjangku sama sikecil kesayanganku.

 

pulang-mesti masih merasa bersalah tidak menemani nenek renta itu, tabu berhamburan berdatangan membawa beras dan aplop putih berisi uang, banyak yang berbaju hitam-hitam, ada juga yang tak sempat mandi, setelah mendengar suara berita kematian lewat pengeras suara mesjid usai shalat subuh….


 

 

sekitar jam 10 pagi ini, aku belum mandi-menunggu jenazah dikebumikan-anak2 kecil berkumpul dihalaman rumah menunggu uang sedekah yang dibagikan tuan rumah isinya 2 gelas beras,uang 5 ribu rupiah dan 1 butir telor ayam mentah, tradisi unik yang mungkin berbeda ditiap tempat-kumenunggu hingga waktunya tepat-jenazah diantar keliang kubur-suara orang-orang yang gemuruh-banyak sekali—hingga kulihat tanah dimasukan kedalam kubur perlahan lahan kakek tergolek didalam tanah yang dibelinya 20 tahun lalu khusus untuk pemakaman keluarga-tanah yang ditanami pohon mangga gedong tinggi sekali–sore pertama kepulangan kakek sepi—sempat merenung dibalkon rumah diatas—“dulu, 2 tahun lalu kudengar suara tok tok tok pagi sekali, suara tongkat kakek saat ia belajar melangkahkan kakinya, seraya berharap strokenya sembuh dengan doa dan mukjijat Allah, sekarang suara itu meninggalkan tongkatnya dipojok ruang, meninggalkan senyap dirumah sebelah–3 hari lalu kakek ngomong”Ibu….Ibu.. cumah aku tak jelas, namun sekarang kutangkap mungkin ia menitipkan ibu atau istrinya yang tua renta itu padaku,” berbagai kemungkinan-

 

tahlilan sampai hari ketujuh kepulangan Kakek—

 

selamat jalan kakek –

sampai bertemu lagi disana-

tempat keabadian-

aku dan kamu tidak akan pernah tahu kapan giliran prosesi ini

 

semoga masih diberikan waktu untuk mengisi sandiwara kehidupan ini–agar kau dan aku tahu baik dan buruk

 

RIP (Hingga tulisan ini diterbitkan–aku masih setia mengikuti tahlilan yang dilaksanakan selepas shalat isya dirumahnya)

2 thoughts on “CATATAN SELEPAS MAGHRIB

mana komentarnya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s