JANGAN REMEHKAN MENJADI SEORANG IBU

Standar

IBU, tiga huruf itu yang semua orang memilikinya–melalui perantaraannyalah kita lahir ke alam ini, namun pernahkah terbayang dibenak kita bahwa dari sejak memutuskan mengandung, kemudian melahirkan dan menyusui semuanya perlu seni tersendiri yang tidak dapat dituliskan, bahkan dikatakanpun kadang tidak akan sesuai dengan aplikasinya,,,, dulu saya tidak pernah dapat mengukur bagaimana sulitnya menjadi seorang ibu, siapa yang bilang mudah? maka ia tidak benar-benar menikmati esensi menjadi seorang ibu, saya katakan sulit menjadi ibu dikarenakan saya baru menjadi ibu muda dari anakku usia 3,mengurusnya usia segitu begitu perlu seni yang realnya full kesabaran–belum lagi terbayang mungkin kita seumur segitu dulu sama atau mungkin lebih hyper active dibandingkan anak kita sekarang.

Sekarang, pernah terbayangkan bagaimana repotnya ibu-ibu di jaman dahulu yang memiliki banyak anak–bahkan sampai ada 11 orang anak (ya kalau dijadikan kesebelasan sepak bola cukup), mereka mungkin pernah mengeluh, membentak, memukul atau juga bahkan ada yang sampai berbuat lebih ekstrim, mencekik hingga mati atau membuangnya tanpa merasa bersalah–ini bicara fenomena, dan kita manggut setuju dengan kenyataan sekarang.

kembali lagi menjadi seorang ibu, dari sisi lensaku ibu adalah ujung tombak cetakan pertama dalam menentukan karakter diusia dewasa, aku pernah membentak anakku ketika ia tidak menurutiku disatu hari–namun imbasnya aku kalah, ia malah menjadi tidak menurutiku dengan cara-cara demikian, kemudian aku berubah melunak dan iapun akan sanggup turui apa mauku,satu hari aku mengalami stress–mungkin efek dari rasa lelah–pernah memukul kakinya hingga ia menangis–efeknya anakku sering rewel dan nangis terus disaat bersamaku, kemudian aku meluluh mengganti pola cetakan dengan lebih lembut–maka iapun akan sangat lebut padaku…. satu waktu aku pernah melarangnya tanpa ada alasan jelas untuk mengambil gunting, anakku malah semakin penasaran dan kemudian menarik keras gunting ditanganku, kemudian aku berpikir mengubah polaku mencoba memberikan penjelasan yang bisa ia mengerti bahwa kalau ia maen gunting tangannya bisa berdarah dan sakit–anakku mengerti (cukup cerdas untuk turut apa penjelasanku). itu adalah beberapa hal dari sekian banyak seni dari mempola anak, benar-benar sebuah tantangan, dan apabila anaknya sampe belasan ibu benar-benar menjadi semakin matang dalam membentuk dan membuat pola dalam karakteristik masa depan.

kalau hari ini ibumu masih ada—jangan pernah sia-siakan keberadaannya dan jangan telantarkan untuk bisa memeluknya erat dan memberikan ia waktu yang tersisanya dengan senyum–sebab itu akan sangat berarti dihari-harinya kini.

(mah sehatkah kau disana?)

 

 

mana komentarnya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s